Senin, 26 Maret 2012

Panca Asas Pendidikan Urang Sunda


Belum lama ini, pada tanggal 21 Februari kita memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional. Tanggal itu menjadi penting sebagai tonggak kebangkitan bahasa-bahasa ibu di dunia. Bukan tanpa alasan UNESCO menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Bahasa ibu  yang di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur memegang peranan penting dalam tatanan kehidupan penuturnya. Begitupun bahasa Sunda menjadi bagian yang tak terpisahkan dari urang Sunda.
Bahasa Sunda merupakan salah satu bahasa terbesar di Indonesia dengan penutur lebih dari 27 juta jiwa. Dalam bahasa Sunda, banyak sekali ajen-inajen atau nilai-nilai luhur yang dapat kita gali dan patut kita teladani.

Nilai-nilai tersebut dapat kita temukan dari ungkapan-ungkapan dalam bahasa Sunda yang memiliki makna mendalam. Contohnya, dalam menjalani hidup urang Sunda harus berprinsip “Hirup kudu jeung huripna”. Artinya kita  tidak hanya memikirkan untuk saat ini saja, tapi juga kelangsungan di masa yang akan datang. Selain itu, urang Sunda harus selalu bersikap rendah hati. Sikap ini sesuai dengan ungkapan Sunda‘Tong agul ku payung butut’. Bahkan ada ungkapan Sunda ‘Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer’ yang ternyata memuat konsep pendidikan yang holistik. Konsep ini merupakan panca asas yang melandasi proses pendidikan di paguron-paguron (perguruan atau sekolah) urang Sunda.

Pertama, asas cageur atau sehat. Tidak hanya sehat jasmani, tapi juga sehat rohani. Jadi, proses pendidikan harus berorientasi pada pembentukan peserta didik yang sehat jasmani dan rohaninya. Agar sehat jasmani, mereka biasanya diharuskan mengikuti Maen Po dengan iringan Tepak Tilu atau Pencak Silat seperti yang kita kenal pada saat ini. Sedangkan untuk sehat rohani, pembinaan dan penanaman nilai-nilai agama dilakukan melalui pangaosan-pangaosan.

Kedua, asas bageur atau baik. Bageur terkait dengan norma dan tata nilai yang berlaku dalam masyarakat. Diharapkan peserta didik menjadi pribadi yang memiliki nilai-nilai kesopanan. Dalam budaya Sunda, kita mengenal pola-pola tata krama kumaha basa jeng rengkak polah ka saluhureun, ka sasama, ka sahandapeun. Pola ini menjadi landasan bagaimana untuk bersikap terutama dalam komunikasi.

Ketiga, asas bener atau benar. Bener dalam arti sesuai dengan aturan yang berlaku dalam Agama dan Negara. Konsep ini menunjukkan bahwa pendidikan harus membentuk peserta didik sebagai pribadi yang taat norma dan aturan.  

Keempat, asas pinter atau cerdas. Pinter menunjukkan penguasaan aspek kognitif memegang peranan penting. Melalui pendidikan, peserta didik didorong untuk bisa menjadi pribadi yang cerdas dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kelima, asas singer atau terampil. Singer dalam arti peserta didik harus menjadi ahli dan profesional di bidangnya. Untuk mencapai tujuan ini, proses pendidikan diarahkan agar bisa memberikan berbagai pengalaman nyata pada mereka. Sehingga teori dan praktek bisa mereka kuasai dengan baik. Sesuai dengan filosofi Sunda Luhung Ku Elmu Jembar Ku Pangabisa, artinya memiliki pengetahuan yang luas dan keterampilan yang mumpuni.

Panca asas pendidikan ini seharusnya menjadi landasan aktivitas pembelajaran khsususnya pada sekolah-sekolah di tatar Sunda. Konsep tersebut sebenarnya tidak kalah dengan berbagai konsep pendidikan lainnya yang berasal dari Barat. Tapi sayangnya, kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai-nilai kearifan lokal masih rendah. Mereka menganggap hal itu kuno dan kolot. Maka tidak heran, banyak dari mereka yang mengidap tuna-karakter dan tuna-budaya karena telah kehilangan jati dirinya. Hari Bahasa Ibu Internasional harus dijadikan sebagai momentum untuk menghidupkan kembali, tidak hanya bahasa tapi juga nilai-nilai di dalamnya.